Komnas HAM: Konflik Papua Jangan Jadikan Warga Sipil Target

images86
images86

JAKARTA – Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menyoroti peristiwa penembakan di Papua yang menewaskan sedikitnya 12 warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan. Selain korban jiwa, belasan warga lainnya dilaporkan mengalami luka serius akibat insiden tersebut.

Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, mengecam keras operasi penindakan terhadap kelompok TPNPB-OPM yang dinilai telah menimbulkan korban dari kalangan sipil.

Read More

“Operasi penindakan yang menimbulkan korban jiwa warga sipil, baik dalam kategori operasi militer maupun selain perang, tidak dapat dibenarkan dengan alasan apa pun,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).

Komnas HAM menegaskan bahwa segala bentuk serangan terhadap warga sipil, baik oleh aktor negara maupun non-negara, merupakan pelanggaran hak asasi manusia dan hukum humaniter internasional. Serangan tersebut dinilai melanggar hak hidup serta hak atas rasa aman, yang tidak dapat dikurangi dalam kondisi apa pun.

Lembaga tersebut juga menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban, terutama dari kelompok rentan seperti perempuan dan anak-anak. Dalam perspektif HAM, kelompok ini seharusnya mendapatkan perlindungan maksimal dari semua pihak, terutama negara.

Komnas HAM mendesak seluruh pihak, termasuk aparat keamanan dan kelompok bersenjata, untuk menahan diri serta tidak menjadikan warga sipil sebagai sasaran konflik. Penegakan hukum dan keamanan juga diminta dilakukan secara profesional, proporsional, dan tetap menghormati prinsip-prinsip HAM.

Selain itu, pemerintah pusat dan daerah diminta segera mengambil langkah perlindungan serta pemulihan bagi para korban, baik dari sisi kesehatan maupun psikologis. Komnas HAM juga menekankan pentingnya menjamin keamanan warga agar tidak terjadi pengungsian akibat situasi konflik.

Komnas HAM turut mendesak Panglima TNI untuk mengevaluasi operasi yang dilakukan oleh Satgas Habema serta memastikan proses penegakan hukum berjalan transparan, profesional, dan tuntas demi keadilan bagi korban dan keluarga.

Sementara itu, Komando Operasi TNI Habema memberikan penjelasan terkait dua peristiwa yang terjadi di Kabupaten Puncak, Papua Tengah, pada Selasa (14/4/2026), yakni di Kampung Kembru dan Kampung Jigiunggi.

Kepala Penerangan Koops TNI Habema, Wirya Arthadiguna, menyatakan bahwa kedua kejadian tersebut tidak saling berkaitan. Insiden di Kampung Kembru bermula dari laporan masyarakat mengenai keberadaan kelompok bersenjata. Saat patroli dilakukan, prajurit TNI disebut mendapat serangan tembakan sehingga terjadi kontak senjata.

Dalam peristiwa tersebut, empat orang yang diduga anggota kelompok bersenjata dilaporkan tewas. Aparat juga mengamankan sejumlah barang bukti, termasuk senjata dan perlengkapan komunikasi yang diduga milik kelompok tersebut.

Adapun peristiwa kedua terjadi di Kampung Jigiunggi, di mana seorang anak dilaporkan meninggal dunia akibat luka tembak. TNI menyatakan masih melakukan penyelidikan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut, dan menegaskan tidak ada keterlibatan prajurit dalam insiden itu.

“TNI berkomitmen untuk bertindak profesional, transparan, dan akuntabel dalam setiap pelaksanaan tugas,” kata Wirya.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *